Tangisan Misterius dari Loteng Kontrakan Tua – Cerita Horor Paling Mencekam
🕯️ Tangisan Dari Loteng
---
Sore itu, langit tampak kelabu. Hujan baru saja reda, menyisakan hawa dingin dan bau tanah basah yang menyusup masuk lewat celah ventilasi. Mira, 23 tahun, baru dua minggu tinggal di kontrakan kecil di pinggiran kota. Bangunannya tua, berdinding kayu, dan atap genteng yang usianya tampak lebih tua dari pemiliknya. Tapi harganya murah, dan bagi Mira yang sedang menjalani kerja remote, itu cukup.
“Yakin kamu mau tinggal sendirian di sini?” tanya sepupunya saat membantu pindahan.
“Tenang aja. Butuh ketenangan buat kerja. Lagian, hemat,” jawab Mira sambil tersenyum.
Namun sejak hari pertama, ada satu bagian rumah yang selalu membuat Mira gelisah—loteng.
---
Malam pertama
Sekitar pukul 10 malam, saat Mira sedang membaca di kamar, terdengar suara seperti gesekan kayu di atas langit-langit. Ia menoleh ke atas, lalu menepis rasa takut. “Mungkin tikus,” gumamnya.
Malam kedua, suara itu muncul lagi. Tapi kali ini seperti benda berat tergeser. Ia mencoba mengabaikan, memasang headset, lalu tidur.
Malam ketiga, Mira terbangun oleh suara yang sangat lirih—tangisan. Tangisan seorang perempuan. Pelan, seperti orang menderita.
---
Sumbernya dari loteng
Tangisan itu terdengar semakin jelas dari hari ke hari. Dan anehnya, selalu muncul di dua waktu:
Sekitar jam 4 sore, menjelang maghrib.
Dan sekitar pukul 2 dini hari.
Mira mulai takut. Ia menyalakan musik keras-keras saat sore tiba, menolak untuk mendengarkan.
Satu sore, listrik tiba-tiba padam. Hening menyelimuti rumah. Dan suara itu datang lagi—lebih jelas. Tangisan lirih, seperti dari seseorang yang kesakitan… atau menyesal.
---
Mencari jawaban
Malam itu, Mira menelpon pemilik kontrakan.
“Pak, saya nggak mau menakut-nakuti, tapi... apa ada kejadian aneh di rumah ini?”
Pemilik kontrakan terdiam sejenak. “Nona Mira... rumah itu kosong cukup lama. Sebelum kamu, penghuni terakhirnya... dia gadis muda juga. Sayangnya, dia ditemukan… tergantung di loteng.”
Mira terdiam. Napasnya tercekat. Loteng yang tak pernah ia jamah, kini terasa seperti bagian rumah yang seharusnya tak ada.
---
Malam terburuk
Tengah malam, Mira mencoba tidur di ruang tamu. Tapi suara dari loteng justru semakin jelas. Ada suara tali berderit, disusul dengan isakan yang sangat dekat. Seakan hanya berjarak satu papan kayu.
Ketika ia menoleh ke arah langit-langit, bayangan hitam terlihat melintas di antara celah ventilasi.
Pagi harinya, Mira meminta bantuan tukang untuk membuka akses ke loteng.
--
Loteng yang di buka
Pintu loteng tua itu terbuka perlahan. Debu beterbangan. Tapi di sana, hanya ada tumpukan papan kayu dan sarang laba-laba.
Namun tukang itu menunduk dan berkata pelan, “Mbak... ini ada bekas tali tambang. Masih baru. Masih bau karat.”
Mira tak sanggup berkata apa-apa. Ia mengepak barangnya malam itu juga.
---
Pindah rumah
Mira pindah dalam waktu seminggu. Ia tidak pernah kembali ke kontrakan itu. Tapi suatu sore, saat naik ojek melewati gang sempit menuju tempat barunya, Mira tak sengaja menoleh ke arah rumah kontrakan lamanya.
Di jendela loteng...
Seseorang berdiri di sana.
Perempuan. Rambut panjang menutupi wajahnya.
Matanya tampak mengintip dari sela rambut, menatap langsung ke Mira.
Tangannya mengetuk pelan jendela dari dalam.
Tok... tok... tok...
---
🕯️ Penutup
Tidak semua suara harus kita cari sumbernya. Kadang, hal-hal yang terdengar tidak masuk akal adalah sesuatu yang lebih baik dibiarkan... tidak dijelaskan.
---

Komentar
Posting Komentar