Tangisan dari jendela belakang Aku tidak pernah menyangka kalau keputusan untuk pindah rumah demi menenangkan pikiran justru menjadi awal dari teror paling mengerikan dalam hidupku. Namaku Aditya, 28 tahun, seorang penulis freelance yang baru saja mengalami kelelahan mental akibat tekanan pekerjaan dan hubungan yang kandas begitu saja. Aku memilih untuk menyewa rumah kecil yang sunyi, jauh dari keramaian kota. Rumah itu terletak di ujung sebuah jalan buntu, dikelilingi oleh pohon jati dan kebun kosong. "Rumah ini cocok buat kamu yang butuh ketenangan," kata Pak Jono, pemilik rumah itu saat kami pertama kali bertemu. Ia tampak seperti pria tua biasa, ramah dan sedikit cerewet soal peraturan rumah. Tapi ada satu hal yang membuatku agak terganggu. "Kalau malam, tolong jangan buka jendela belakang. Bukan karena ada maling, tapi... angin malam di sini kadang bawa hal-hal yang tidak diinginkan," katanya sambil tertawa kecil. Saat itu aku hanya tersenyum dan mengangguk, me...
🏚️ Bagian 1: Selamat Datang di Kos-Kosan “Damai Sementara” Di sebuah sudut kota yang tidak terlalu ramai, berdiri sebuah kos-kosan tua yang cat temboknya sudah mengelupas seperti kulit ular gatal. Namanya? Kos Damai Sementara. Entah kenapa pemiliknya memberi nama seambisius itu, padahal nyatanya, lebih mirip Kos Damai Kalau Kamu Bisa Bertahan Hidup. Pemilik kos ini seorang ibu-ibu berumur 50-an bernama Bu Surti, tapi anak-anak kos memanggilnya “Bu S” karena... ya, mereka takut memanggil nama lengkapnya. Katanya, siapa yang manggil lengkap, malamnya pasti ngelantur ngomong sendiri sambil nari Jaipong di lorong. Masuklah tokoh utama kita, Jaka, mahasiswa semester tua yang keuangan bulanan sudah seperti WiFi gratisan—kadang nyala, sering mati. Karena murah, dia nekat pindah ke kos Damai Sementara, walau kabar angker tempat itu sudah sepopuler mie instan. "Bu, saya mau ngekos," kata Jaka, tersenyum meski melihat pintu depan rumah itu bergerak sendiri seperti menyambut tamu dar...
Komentar
Posting Komentar