Penghuni Senyap Kamar Nomor Tiga
Penghuni Senyap Kamar Nomor Tiga
Malam itu, hujan turun dengan begitu deras, membasahi kota yang lelah. Kilatan petir sesekali menyambar, menerangi wajah Rio yang basah kuyup. Ia mencengkeram erat ranselnya, menahan dingin yang menusuk tulang. Sudah dua jam ia berkeliling, mencari sebuah kos-kosan yang harganya ramah di kantong mahasiswa sepertinya. Namun, semua yang ia temui tak ada yang cocok, baik karena terlalu jauh dari kampus, fasilitas yang buruk, atau harganya selangit.
Di ujung gang sempit yang gelap, di bawah sebuah lampu jalan yang berkedip-kedip, matanya menangkap sebuah papan nama kayu yang sudah usang: "Kos Ibu Eka". Bangunannya tua, berlantai dua, dengan cat yang sudah terkelupas dan jendela-jendela yang tampak kusam. Sekilas, tempat itu terlihat angker, tapi Rio sudah terlalu lelah untuk pilih-pilih. Ia melihat ada satu spanduk kecil bertuliskan "Satu Kamar Kosong". Sebuah harapan kecil muncul di hatinya.
Ia mengetuk pintu pagar besi yang berkarat. Bunyi "ckittt... ckittt..." yang mengerikan mengiringi gerakannya. Tak lama, seorang wanita tua berambut kelabu dengan wajah ramah muncul dari balik pintu. "Mencari kamar, Nak?" tanyanya lembut.
"Iya, Bu. Apakah benar ada satu kamar yang kosong?" jawab Rio, mencoba menyembunyikan getaran dalam suaranya.
"Benar. Tinggal satu-satunya, di lantai atas. Kamar Nomor Tiga," ujar wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai Ibu Eka itu.
"Kamar ini sudah lama kosong, tidak ada yang mau menempatinya. Tapi jangan khawatir, kamarnya bersih. Harga khusus untuk mahasiswa, saya jamin paling murah."
Rio mengangguk cepat. Ia tidak peduli mengapa kamar itu kosong. Yang penting ada tempat berteduh. Tanpa ragu, ia segera membayar uang sewa untuk satu bulan. Ibu Eka memberinya kunci, sebuah benda tua dengan ukiran samar di bagian gagangnya. "Selamat datang di sini, Nak. Hati-hati naik tangganya, licin," pesannya sebelum masuk kembali ke dalam.
Tangga kayu yang ia pijak berderit setiap kali ia melangkah. Udara di lantai atas terasa lebih dingin dan lembap. Lorongnya sunyi, lampu di langit-langit hanya menyala remang-remang, menciptakan bayangan-bayangan aneh di dinding. Rio berjalan melewati dua kamar yang pintunya tertutup rapat, sebelum akhirnya tiba di depan Kamar Nomor Tiga.
Pintu itu tampak berbeda dari yang lain. Warnanya lebih gelap, seolah sudah memudar, dan di tengahnya terdapat goresan-goresan panjang yang seperti bekas cakaran. Rio merinding, tapi ia memaksakan diri membuka pintu itu. Bau apak bercampur aroma bunga melati yang menyengat langsung menyeruak keluar. Lampunya berfungsi, dan setelah menyalakannya, ia melihat sebuah kamar yang cukup luas dengan ranjang, lemari kayu tua, dan meja belajar. Jendela kamar menghadap ke halaman belakang yang ditumbuhi pohon mangga yang rindang.
Malam itu, setelah menata barang-barangnya, Rio merebahkan diri. Ia terlalu lelah untuk memikirkan keanehan kamar itu. Perlahan, matanya terpejam.
Tengah malam, ia terbangun. Bukan karena suara, melainkan karena keheningan yang luar biasa. Hujan sudah berhenti, bahkan suara jangkrik pun tak terdengar. Hanya ada keheningan pekat yang membuat telinganya berdenging. Rio bangkit dari ranjang. Tubuhnya terasa berat, seolah ada beban tak kasat mata yang menindihnya. Matanya mengarah ke jendela. Sinar rembulan menerobos masuk, menerangi sosok seorang wanita yang duduk di bawah pohon mangga.
Wanita itu mengenakan gaun putih lusuh, rambutnya yang panjang terurai menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak bergerak sama sekali, hanya duduk diam seperti patung. Rio menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya halusinasi akibat kelelahan. Tapi, saat ia berkedip, wanita itu masih di sana. Dan kini, ia menoleh perlahan ke arah jendela, seolah tahu bahwa Rio sedang memperhatikannya.
Rio langsung memejamkan mata, membalikkan badan, dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Ia berdoa agar makhluk itu menghilang. Rasa takut yang sesungguhnya baru ia rasakan. Kamar itu memang tidak kosong, seperti yang ia pikir. Ia tidak sendirian.
Pagi harinya, Rio mencoba bersikap biasa saja. Ia bertemu penghuni lain, seorang pria bernama Budi yang menempati Kamar Nomor Dua. Budi menyapanya ramah. Rio pun memberanikan diri bertanya tentang kamar di sampingnya. "Sudah lama ya, Kamar Nomor Tiga itu kosong?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
Wajah Budi langsung berubah tegang. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. "Masih baru ya di sini?" bisiknya. "Sejak dulu, tidak ada yang betah di kamar itu. Banyak yang bilang kamarnya 'ada isinya'."
Rio merasakan bulu kuduknya meremang. "Isinya bagaimana, Mas?"
Budi menatapnya dengan tatapan serius. "Dulu, ada seorang mahasiswi yang tinggal di situ. Namanya Rina. Dia terkenal pendiam, dan sering terlihat duduk di bawah pohon mangga belakang. Suatu malam, dia ditemukan meninggal di dalam kamar. Gantung diri. Anehnya, setelah kematiannya, katanya ada suara-suara aneh dari dalam sana. Bahkan, ada yang pernah lihat dia duduk di bawah pohon itu, tempat dia paling sering merenung."
Jantung Rio mencelos. Itu persis seperti yang ia lihat semalam. Ia mencoba tersenyum, seolah tidak peduli, tetapi di dalam hatinya, rasa ngeri itu semakin membesar. "Wah, cerita seram ya," ujarnya sambil mencoba mengakhiri percakapan.
Beberapa hari berikutnya, Rio mencoba bersikap normal. Ia sengaja pulang larut malam agar tidak terlalu lama berada di kamar. Namun, setiap kali ia pulang, ia merasakan hal-hal aneh. Suara derit lantai yang bukan dari langkah kakinya, hembusan angin dingin saat ia tidur padahal jendela tertutup, dan aroma melati yang sesekali muncul begitu kuat.
Puncaknya terjadi pada malam Jumat Kliwon. Suara dari dalam kamar terdengar lebih jelas. Suara gesekan kursi, suara air menetes dari keran yang sebenarnya kering, dan bisikan-bisikan lirih yang tidak jelas. Rio yang mencoba tidur, kini duduk bersandar di ranjang, keringat dingin membasahi dahinya. Ia menyalakan senter di ponselnya, mengarahkannya ke sudut-sudut kamar, tetapi tidak ada apa-apa.
Tiba-tiba, senter itu mati. Gelap. Rio panik, ia mencoba menyalakannya lagi, tetapi tidak bisa. Ia meraba-raba meja, mencari korek api, dan berhasil menemukannya. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan lilin. Cahaya redup lilin itu membuat bayangannya sendiri di dinding terlihat menakutkan.
Saat ia berbalik, matanya menangkap sesuatu di lemari. Pintu lemari yang semula tertutup kini terbuka sedikit, memperlihatkan celah hitam yang pekat. Rio tahu itu tidak mungkin. Ia sudah menutupnya rapat-rapat sebelum tidur.
"Jangan ditutup," sebuah suara lirih, dingin, dan bergetar, terdengar tepat di belakangnya. Suara itu begitu dekat, seolah berbisik di telinganya. "Aku ingin melihatmu."
Rio mematung. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Ia tidak berani menoleh. Ia hanya bisa melihat bayangan pintu lemari di depannya. Tiba-tiba, dari celah pintu lemari itu, sebuah tangan pucat, kurus, dengan kuku-kuku panjang berwarna kehitaman, perlahan keluar. Jari-jemarinya yang mengerikan mulai merayap di pinggir pintu.
Rio menjerit sekencang-kencangnya. Ia melompat dari ranjang, membuka pintu, dan berlari sekencang mungkin menuruni tangga. Ia tak peduli pada barang-barang miliknya, tak peduli pada uang sewa yang sudah ia bayar. Ia hanya ingin keluar dari neraka kecil itu.
Teriakan Rio membangunkan Budi dan beberapa penghuni lain. Mereka semua keluar dari kamar, melihat Rio yang terengah-engah dan pucat pasi. "Ada apa? Kamu kenapa?" tanya Budi panik.
"Di... di dalam... ada dia... dia di lemari!" Rio berteriak histeris, menunjuk ke arah kamarnya. "Dia yang menempati kamar itu!"
Budi dan beberapa penghuni lain mencoba menenangkannya. Mereka menganggap Rio hanya mengalami mimpi buruk. Ibu Eka yang juga terbangun, mendekat dengan wajah khawatir. "Nak, tenangkan dirimu. Itu hanya mimpi. Kamar itu sudah bersih. Tidak ada apa-apa di sana," katanya dengan suara yang meyakinkan.
Tapi Rio tidak percaya. Ia melihat kengerian itu dengan mata kepalanya sendiri. "Tidak! Dia ada di sana! Wanita yang meninggal itu, dia kembali!"
Ibu Eka terdiam. Senyumnya menghilang, tergantikan oleh ekspresi kosong yang tidak terbaca. Pandangannya lurus ke arah pintu Kamar Nomor Tiga. Rio menoleh, dan terkejut melihat pintu kamarnya yang semula terbuka, kini tertutup rapat.
"Aku sudah bilang... jangan ditutup," suara itu kembali berbisik, tetapi kali ini dari arah belakang Rio. Bukan di telinganya, melainkan dari sudut ruangan yang gelap di ujung lorong.
Rio berbalik. Sebuah bayangan hitam pekat bergerak dari sudut itu. Bayangan itu berbentuk wanita, berambut panjang, dengan gaun putih. Ia tidak memiliki wajah yang jelas, hanya lubang gelap di mana seharusnya ada mata dan mulut. Dari lubang itu, ia menatap Rio.
"Dia menyukaimu," bisik bayangan itu.
Seketika, Rio sadar bahwa suara yang ia dengar di lorong itu bukanlah milik penghuni lain, melainkan suara dari entitas itu sendiri. Ia sadar, bukan hanya kamar Nomor Tiga yang berhantu. Seluruh rumah ini dihuni oleh makhluk yang sama.
Rio kembali berteriak, kali ini dengan jeritan yang lebih memilukan, dan berlari keluar dari rumah itu tanpa menoleh lagi. Di tengah hujan yang kembali turun, ia berlari tanpa tujuan, tidak peduli pada apa pun lagi.
Bertahun-tahun berlalu, Rio kini sudah sukses dengan karirnya. Namun, ia tidak pernah bisa melupakan kengerian malam itu. Ia tidak pernah lagi berani menyewa kos-kosan, memilih untuk membeli apartemen sendiri. Setiap kali ia melihat sebuah pohon mangga, atau mencium aroma bunga melati, ia akan teringat pada wajah pucat Rina dan bisikan dingin yang masih menghantuinya dalam mimpi.
Ia juga tak pernah lagi bisa tidur dalam keheningan total. Ia selalu menyalakan TV, radio, atau musik. Karena ia tahu, dalam keheningan yang paling pekat, ada suara bisikan yang menantinya. Bisikan dari penghuni senyap Kamar Nomor Tiga, yang akan terus mengikutinya, selamanya.

Komentar
Posting Komentar