Kos-Kosan Hantu Tukang Kredit

 

Kos - kosan hantu tukang kredit

🏚️ Bagian 1: Selamat Datang di Kos-Kosan “Damai Sementara”


Di sebuah sudut kota yang tidak terlalu ramai, berdiri sebuah kos-kosan tua yang cat temboknya sudah mengelupas seperti kulit ular gatal. Namanya? Kos Damai Sementara. Entah kenapa pemiliknya memberi nama seambisius itu, padahal nyatanya, lebih mirip Kos Damai Kalau Kamu Bisa Bertahan Hidup.


Pemilik kos ini seorang ibu-ibu berumur 50-an bernama Bu Surti, tapi anak-anak kos memanggilnya “Bu S” karena... ya, mereka takut memanggil nama lengkapnya. Katanya, siapa yang manggil lengkap, malamnya pasti ngelantur ngomong sendiri sambil nari Jaipong di lorong.


Masuklah tokoh utama kita, Jaka, mahasiswa semester tua yang keuangan bulanan sudah seperti WiFi gratisan—kadang nyala, sering mati. Karena murah, dia nekat pindah ke kos Damai Sementara, walau kabar angker tempat itu sudah sepopuler mie instan.


"Bu, saya mau ngekos," kata Jaka, tersenyum meski melihat pintu depan rumah itu bergerak sendiri seperti menyambut tamu dari neraka.


"Bagus. Kamar kosong tinggal nomor 13. Eh, kamu percaya angka sial gak?"

"Enggak bu."

"Bagus. Soalnya sial atau enggaknya tergantung iman dan pulsa kamu. Kalau pas malam-malam kehabisan pulsa, baru deh kamu bisa ngobrol sama yang tak kasat mata."

"..."



---


Udah dulu ya ceritanya... tapi tenang, si tukang kredit dan geng hantunya bakal nongol lagi tiap malam Jumat jam 9 malam. Jangan sampai kelewatan, bisa-bisa ditagih sebelum akhir bulan! 😆



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teror Tengah Malam: Tangisan dari Jendela Belakang Rumah Kontrakan