Teror Tengah Malam: Tangisan dari Jendela Belakang Rumah Kontrakan
Tangisan dari jendela belakang
Aku tidak pernah menyangka kalau keputusan untuk pindah rumah demi menenangkan pikiran justru menjadi awal dari teror paling mengerikan dalam hidupku. Namaku Aditya, 28 tahun, seorang penulis freelance yang baru saja mengalami kelelahan mental akibat tekanan pekerjaan dan hubungan yang kandas begitu saja. Aku memilih untuk menyewa rumah kecil yang sunyi, jauh dari keramaian kota. Rumah itu terletak di ujung sebuah jalan buntu, dikelilingi oleh pohon jati dan kebun kosong.
"Rumah ini cocok buat kamu yang butuh ketenangan," kata Pak Jono, pemilik rumah itu saat kami pertama kali bertemu. Ia tampak seperti pria tua biasa, ramah dan sedikit cerewet soal peraturan rumah. Tapi ada satu hal yang membuatku agak terganggu.
"Kalau malam, tolong jangan buka jendela belakang. Bukan karena ada maling, tapi... angin malam di sini kadang bawa hal-hal yang tidak diinginkan," katanya sambil tertawa kecil. Saat itu aku hanya tersenyum dan mengangguk, mengira itu sekadar mitos lokal atau kebiasaan aneh orang tua.
Hari-hari pertama di rumah itu terasa biasa saja. Aku menulis, memasak, tidur, lalu mengulanginya keesokan harinya. Tapi masuk hari ketujuh, suasana mulai berubah. Setiap malam, tepat pukul dua dini hari, aku selalu terbangun tanpa sebab. Ada rasa dingin yang menyusup ke dalam tubuh, meski semua jendela dan pintu sudah tertutup rapat.
Malam ke-10, aku mulai mencium bau anyir, seperti darah kering, yang datang dari arah dapur. Aku sempat memeriksa, tapi tidak menemukan apa pun. Esok harinya, aku menelepon Pak Jono, menanyakan apakah ada hewan mati di sekitar rumah.
"Enggak ada, Mas. Rumah itu udah kosong lima tahun, tapi bersih kok. Saya sendiri yang bersihin sebelum Mas Aditya pindah."
Kata-katanya membuat bulu kudukku meremang. Rumah itu kosong lima tahun? Lalu bau itu dari mana?
Malam ke-12, aku mulai mendengar suara langkah kaki dari atap rumah. Langkah itu pelan, seolah ada seseorang yang mondar-mandir di sana. Tapi yang membuat jantungku berdegup lebih cepat, rumah itu tidak punya loteng.
Aku mencoba mengabaikan semuanya. Tapi malam ke-13 jadi titik balik.
Pukul dua dini hari, aku kembali terbangun. Tapi kali ini bukan karena rasa dingin. Aku mendengar suara tangisan... perempuan. Tangisannya lirih, seperti orang yang sangat kesepian dan putus asa. Suaranya datang dari jendela belakang—ya, jendela yang dilarang dibuka oleh Pak Jono.
Aku bangkit pelan, mendekati jendela itu. Tirai tipis bergoyang, padahal tak ada angin. Aku meraih pegangan jendela, hendak membukanya... tapi tangisan itu berhenti tiba-tiba.
Aku diam, menahan napas.
Kemudian terdengar bisikan. Sangat dekat. Tepat di belakang telingaku.
"Jangan buka... nanti dia tahu kamu di sini."
Aku terlonjak, berbalik cepat. Tidak ada siapa pun. Dadaku berdetak keras. Kulitku menggigil. Aku memutuskan malam itu untuk tidak tidur dan menyalakan semua lampu di rumah.
Keesokan harinya aku nekat bertanya pada warga sekitar. Seorang ibu warung yang sudah tua akhirnya mau bercerita.
"Dulu, ada perempuan muda tinggal di sana. Namanya Sari. Dia ngontrak sama suaminya. Tapi suaminya kasar, suka mukulin dia. Suatu malam, mereka berantem besar. Besoknya, Sari ditemukan gantung diri di belakang rumah itu. Di depan jendela belakang."
Aku membeku mendengar cerita itu.
"Mayatnya katanya diem terus mandangin jendela. Matanya kebuka lebar, seolah nunggu sesuatu... atau seseorang."
Malam ke-14, aku memutuskan untuk merekam suara malam dengan HP. Aku letakkan di dekat jendela belakang, lalu tidur dengan lampu menyala. Pagi harinya, aku dengarkan rekaman itu.
Awalnya hanya suara jangkrik. Lalu jam 2:01 terdengar suara... tangisan. Sama seperti malam-malam sebelumnya. Tapi lalu, di menit ke-12 dari rekaman itu, suara perempuan itu berubah.
Dia berkata: "Aditya... buka... aku kedinginan."
Aku menjatuhkan HP-ku. Itu suaraku. Dia menyebut namaku. Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun soal ini.
Malam ke-15, aku memutuskan untuk pergi. Koper sudah aku kemasi. Tapi saat aku keluar kamar, semua lampu mati serempak. Rumah gelap total. Aku berlari ke arah pintu, tapi tidak bisa dibuka. Terkunci dari luar. Semua jendela juga sama.
Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar di belakangku. Perlahan. Mendekat.
Aku menoleh.
Sosok perempuan berdiri di ujung lorong. Rambutnya panjang menutupi wajah. Bajunya compang-camping. Tangannya berdarah.
"Kenapa kamu mau pergi... padahal aku baru saja datang..."
Aku teriak, mencoba mendobrak pintu. Tidak berhasil. Sosok itu mendekat perlahan. Wajahnya kini terlihat—matanya kosong, bibirnya robek, dan darah menetes dari lehernya.
Aku tak ingat apa-apa setelah itu. Aku terbangun di rumah sakit tiga hari kemudian.
Dokter bilang aku ditemukan pingsan di luar rumah, tepat di depan pintu. Tidak ada luka, tapi tubuhku sangat lemas. Pak Jono tidak bisa dihubungi. Nomor yang dulu dia beri, tidak aktif. Saat aku kembali ke rumah itu bersama polisi dan warga... rumahnya sudah kosong.
Tidak ada perabot. Tidak ada jejak bahwa aku pernah tinggal di sana. Rumah itu seperti belum pernah dihuni bertahun-tahun.
Tapi yang membuatku paling takut adalah... saat aku membuka HP-ku.
Rekaman dari malam itu masih ada. Tapi kini, suaranya berbeda.
"Kamu sudah lihat a
ku, Aditya... sekarang kamu yang harus menemaniku..."
Tamat

Gg
BalasHapus